Sawahlunto – Pameran Seni Murni Sebuah pameran seni dengan tema yang tidak biasa digelar di pusat kebudayaan kota minggu ini.
Bertajuk “Seni Murni, Seni Terapan, Seni Terserah”, acara ini menyita perhatian publik sejak hari pembukaannya.
Tema yang terdengar jenaka namun penuh makna itu menyajikan beragam karya dari seniman lintas generasi dan latar belakang.
Pameran ini diinisiasi oleh sekelompok kurator muda yang ingin menantang batas-batas definisi seni konvensional.

Baca Juga : DPRD Sawahlunto Alokasikan Pokir untuk perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan
Mereka menyatukan tiga jenis seni dalam satu ruang: seni murni yang idealis, seni terapan yang fungsional, dan “seni terserah” yang bebas interpretasi.
Pengunjung diajak untuk tidak hanya melihat, tetapi juga mempertanyakan kembali apa itu seni.
Salah satu karya seni murni yang mencolok adalah lukisan abstrak berukuran besar berjudul “Diam Itu Riuh.”
Lukisan itu terdiri dari sapuan warna acak yang memancing perasaan tidak nyaman—namun justru membuat penonton terpaku.
Di sisi lain, seni terapan tampil dalam bentuk furnitur kayu hasil desain seniman lokal yang memadukan estetika dan fungsi.
Ada kursi minimalis berbentuk menyerupai notasi musik dan lampu meja dari besi bekas
Tak kalah menarik, bagian “seni terserah” menjadi favorit pengunjung karena keanehannya yang memancing tawa sekaligus refleksi.
Senimannya mengatakan, “Saya hanya lapar waktu itu. Lalu saya pikir, kenapa tidak dijadikan seni?”
Di seberangnya, ada video berdurasi tiga jam yang hanya menampilkan kipas angin menyala tanpa suara.
Banyak pengunjung awalnya bingung, tapi kemudian tertawa atau justru termenung setelah menontonnya.
Menurut kurator pameran, konsep “seni terserah” adalah bentuk pemberontakan terhadap keharusan dalam berkesenian.
“Kadang seniman hanya ingin bermain. Tidak semuanya harus serius atau bermakna dalam,” kata kurator utama, Lintang Mahadewa.
Respon pengunjung pun beragam, dari yang merasa tercerahkan hingga yang merasa tertipu.
Seorang pengunjung, Rika (26), mengatakan bahwa ini pertama kalinya ia tertawa di galeri seni Saya datang karena penasaran, pulang jadi mikir






