SAwahluntoh – Ledakan dan Kebakaran Suara dentuman keras membelah malam. Langit seketika memerah, diterangi kobaran api yang menjulang tinggi. Kepanikan menyebar seperti gelombang. Warga berhamburan keluar rumah — beberapa tanpa alas kaki, sebagian menggandeng anak-anak kecil, mencari aman sejauh mungkin dari sumber ledakan.
Kilang minyak milik Pertamina di Tuban meledak pada Jumat malam (16/10), menyebabkan kebakaran hebat yang membuat ribuan warga di sekitar lokasi panik. Api terlihat menyala hingga radius beberapa kilometer, menimbulkan bau menyengat dan asap hitam pekat yang membubung ke langit.
“Kami pikir itu gempa atau petir besar, ternyata suara dari kilang! Api langsung besar sekali, kami lari tanpa sempat bawa apa-apa,” ujar Lusi (34), warga Desa Sumurgeneng, yang rumahnya hanya berjarak 1,5 km dari lokasi.
Dentuman yang Tak Diduga
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383060/original/053459100_1760614756-IMG-20251016-WA0017.jpg)
Baca Juga : Matematika Gembira, Inovasi Sawahlunto Ubah Cara Belajar
Tim pemadam kilang segera dikerahkan, dibantu unit Damkar dari Pemkab Tuban. Upaya pemadaman berlangsung dramatis karena api sempat menjalar ke bagian lain yang menyimpan bahan mudah terbakar.
Pihak Pertamina dalam pernyataan resmi menyebutkan bahwa penyebab ledakan masih dalam investigasi, namun mereka memastikan bahwa situasi kini “sudah terkendali”.
Warga Mengungsi, Trauma Menghantui
Sedikitnya 200 warga dari desa terdekat memilih mengungsi ke balai desa dan rumah kerabat. Beberapa orang dilaporkan mengalami sesak napas akibat menghirup asap. Petugas medis diterjunkan untuk memberikan pertolongan pertama.
“Kami takut kejadian seperti di Balongan (Indramayu) terulang. Jangan sampai ada korban jiwa,” ujar Pak Darno, tokoh masyarakat setempat.
Sejauh ini, belum ada laporan korban jiwa. Namun warga mengeluhkan minimnya sistem peringatan dini dan kurangnya komunikasi dari pihak pengelola kilang ketika insiden terjadi.
Kilang Strategis, Risiko Besar
Kilang Tuban adalah salah satu proyek strategis nasional yang tengah diperluas dalam kerja sama dengan perusahaan migas asing. Namun, dengan status strategis datang pula risiko besar — termasuk bagi keselamatan warga yang tinggal di sekitarnya.
Kejadian ini membuka kembali pertanyaan: seberapa siap kita menghadapi situasi darurat industri energi?
Kebakaran memang sudah bisa dipadamkan. Tapi trauma, ketakutan, dan ketidakpastian warga tidak akan padam semudah itu. Dibutuhkan evaluasi menyeluruh, tidak hanya soal keamanan fasilitas, tetapi juga komunikasi darurat dan perlindungan warga.






