Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Bekal Cinta dari Sawahlunto: Saat Anak-Anak SLB Belajar Mandiri

Shoppe Mall

Anak Berkebutuhan Khusus Masak di Dapur Bersejarah Museum Goedang Ransoem Sawahlunto

Sawahlunto – Di dapur tua yang pernah menjadi tempat memasak ribuan piring nasi bagi para pekerja tambang batubara zaman Belanda, kini kembali tercium aroma wangi tumisan sayur dan nasi goreng. Bedanya, kali ini bukan juru masak berpengalaman yang sibuk di sana, melainkan tangan-tangan mungil penuh semangat dari para pelajar Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Kota Sawahlunto.

Museum Goedang Ransoem — bangunan bersejarah yang dulu menjadi pusat logistik kolonial — mendadak riuh oleh tawa dan teriakan semangat anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka tengah mengikuti “Lomba Memasak Bekal”, ajang yang dibuka langsung oleh Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, Senin (13/10/2025).

Shoppe Mall

baca juga : Spesifikasi Rudal Tomahawk AS yang Mau Dikirim ke Ukraina

Namun kegiatan ini bukan sekadar lomba masak. Di balik piring-piring sederhana itu tersaji pesan mendalam tentang kemandirian, kepercayaan diri, dan kesempatan tumbuh tanpa batasan bagi anak-anak istimewa.

“Anak-anak ini luar biasa. Kita ingin mereka tahu bahwa kemampuan mereka sama berharganya dengan siapa pun,” ujar Riyanda dalam sambutannya.

Menurutnya, lomba memasak ini sejalan dengan visi “Sawahlunto Maju”, yang menempatkan penguatan sumber daya manusia (SDM) sebagai fondasi utama pembangunan. “Kota ini tidak akan maju hanya dengan jalan mulus dan gedung tinggi. Kita juga perlu manusia yang percaya diri, mandiri, dan punya empati,” tambahnya.

Bekal Cinta dari Sawahlunto: Saat Anak-Anak SLB Belajar Mandiri Lewat Dapur Museum

Kemandirian dan Keceriaan di Tengah Kompetisi

Dalam lomba ini, setiap peserta diminta menyiapkan bekal sehat dan menarik. Ada yang membuat nasi goreng sayur, roti isi telur, hingga salad buah sederhana. Tawa riang terdengar setiap kali ada telur gosong atau nasi terlalu asin, tapi tak satu pun wajah menampakkan kecewa.

“Yang penting berani coba dulu,” kata Rafi, siswa SLB Negeri Sawahlunto sambil memegang spatula. Ia tampak bangga ketika Wali Kota mencicipi hasil masakannya.

Guru pendamping, Ibu Melani, menuturkan bahwa kegiatan seperti ini memiliki nilai lebih dari sekadar kompetisi. “Lewat memasak, anak-anak belajar fokus, kerja sama, dan disiplin. Itu jauh lebih penting daripada siapa yang menang,” ujarnya.

Warisan Sejarah yang Jadi Ruang Belajar

Museum Goedang Ransoem memiliki sejarah panjang. Pada masa kolonial, dapur besar ini menjadi pusat penyediaan makanan bagi ribuan buruh tambang batubara Ombilin setiap harinya. Kini, bangunan bersejarah itu telah berubah fungsi menjadi ruang edukasi dan pariwisata — bagian dari situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2019.

Di tempat inilah generasi muda Sawahlunto belajar mengolah bukan hanya bahan makanan, tapi juga warisan sejarah dan nilai kehidupan. “Dulu dapur ini melayani para pekerja tambang. Sekarang melayani semangat baru — semangat belajar dan berdaya,” ujar salah satu pengunjung museum yang terharu menyaksikan kegiatan tersebut.

Sawahlunto Masak Masa Depan Inklusif

Wali Kota Riyanda menegaskan, pemerintah berkomitmen menjadikan Sawahlunto sebagai kota yang ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Berbagai kegiatan inklusif di bidang pendidikan, seni, dan olahraga terus digalakkan.

baca juga : Wali Kota Sawahlunto Sampaikan Nota Pengantar tentang KUA

“Pembangunan Sawahlunto bukan cuma soal mempercantik kota, tapi memastikan setiap anak punya ruang untuk bermimpi dan berkembang,” tegasnya.

Dan di bawah aroma nasi goreng yang masih menggantung di udara museum, tampak jelas: Sawahlunto sedang memasak sesuatu yang lebih berharga dari sekadar bekal — masa depan yang inklusif dan berdaya.

Shoppe Mall