Sawahlunto – Pilu Balita Jadi Kecelakaan tragis yang terjadi di perlintasan kereta api di kawasan Padang, Sumatera Barat, pada Sabtu pagi (29/11) meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Sebuah kereta api melaju tanpa bisa dihindari, menabrak mobil yang sedang melintas di perlintasan yang tidak terjaga, merenggut nyawa empat orang dalam satu keluarga, dan meninggalkan seorang balita berusia 2 tahun sebagai satu-satunya korban yang selamat.
Kecelakaan Maut yang Merenggut Empat Nyawa
Tragedi ini terjadi sekitar pukul 08.00 WIB saat keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dua anak, dan balita sedang dalam perjalanan menuju pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Mereka melaju dengan mobil pribadi, dan saat memasuki perlintasan kereta api tanpa palang pintu, tiba-tiba sebuah kereta api yang melaju dengan kecepatan tinggi datang menghantam mobil tersebut.
Mobil yang dikendarai oleh Dedi Kurniawan (35), bersama istrinya Siti Nurhayati (32) dan dua anak mereka, Lina (6) dan Riko (4), langsung terhantam oleh kereta api yang melaju kencang. Kecelakaan ini menyebabkan mobil terpelanting jauh dari rel kereta, sementara tubuh korban yang berada di dalam kendaraan terlempar akibat benturan keras.
Pilu Balita Jadi Sebatang Kara

Baca Juga : Disdik PPA Sawahlunto Ikut Telusuri Penyebab Pelajar Tewas Tergantung di Kelas
Dalam kecelakaan tersebut, hanya balita yang masih bayi, Dina (2), yang selamat meski dengan kondisi luka-luka ringan.
Dina kini harus menerima kenyataan pahit bahwa dia kehilangan kedua orang tua, serta dua saudara kandungnya dalam satu peristiwa tragis ini.
Saksi mata, Joni Rahmat (46), yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian, menceritakan bahwa setelah mendengar suara keras benturan, ia berlari menuju lokasi dan melihat pemandangan yang sangat mengerikan. “Saya langsung lari ke arah mobil yang tertabrak. Di dalam mobil itu hanya ada Dina yang masih selamat, sementara yang lain sudah tidak bergerak,” katanya dengan suara gemetar.
Penyelamatan dan Penanganan Korban
Setelah kejadian, warga sekitar segera melaporkan insiden ini kepada pihak berwajib. Petugas dari Kepolisian Resor Padang dan Tim SAR terdekat segera mendatangi lokasi untuk melakukan evakuasi dan penyelamatan.
Meski luka-lukanya tidak terlalu parah, kondisi psikologis Dina sangat membutuhkan perhatian khusus. Tim psikolog dan medis kini terus memberikan pendampingan untuk membantu Dina pulih dari kejadian yang sangat memilukan ini.
Perlintasan Tanpa Palang Pintu
Dugaan sementara dari pihak kepolisian menyebutkan bahwa kecelakaan ini terjadi karena kurangnya perhatian terhadap keselamatan di perlintasan kereta api.
Pihak kereta api yang melintas tidak dapat mengurangi kecepatan atau menghentikan kereta tepat waktu.
Reaksi dari Pihak Keluarga dan Pemerintah
Kejadian ini telah menimbulkan rasa keprihatinan yang mendalam dari berbagai pihak, baik dari keluarga korban, masyarakat, maupun pemerintah.
Pemerintah Kota Padang juga berkomitmen untuk memberikan bantuan kepada balita Dina yang kini menjadi yatim piatu.
Sementara itu, pihak keluarga korban lainnya juga mulai memberikan pernyataan tentang tragedi tersebut. Rina Dewi, kakak kandung dari almarhum Dedi Kurniawan, mengungkapkan rasa kesedihan yang mendalam atas kehilangan yang menimpa keluarganya. “Kami tak menyangka peristiwa ini terjadi. Dedi adalah orang yang baik, selalu memperhatikan keluarganya, dan sangat perhatian pada keselamatan. Kami hanya bisa berharap Dina bisa mendapatkan perawatan yang terbaik,” katanya sambil terisak.
Kejadian Mendorong Evaluasi Keselamatan Perlintasan Kereta Api
Kecelakaan ini mengundang perhatian lebih lanjut mengenai perlunya evaluasi terhadap sistem keselamatan di perlintasan kereta api yang tidak terjaga.
Kami akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan fasilitas keselamatan di setiap perlintasan yang tidak terjaga,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Selain itu, KAI juga berencana untuk meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya melewati perlintasan kereta api tanpa pengawasan yang memadai.
Pilu Balita Jadi Duka yang Mendalam dan Harapan untuk Dina
Di tengah pilu yang melanda, seluruh masyarakat Payakumbuh dan sekitarnya bergotong royong memberikan dukungan moral dan materiil kepada Dina. Semangat kebersamaan ini menjadi harapan agar Dina dapat kembali menjalani kehidupan yang lebih baik meski tanpa orang tua di sampingnya.
Saat ini, berbagai pihak terus berusaha memberikan perhatian kepada balita yang kini telah kehilangan segalanya. Meskipun dunia seakan gelap bagi Dina, harapan akan masa depan yang cerah masih ada.






